Tips foto: bagaimana cara memotret siluet

2 09 2010

Siluet adalah foto dengan obyek utama gelap total dengan background yang terang, sehingga yang terlihat adalah bentuk dari obyek utama tadi. Memotret siluet tidaklah sesulit yang dibayangkan, asal anda tahu langkah-langkah dan tips-nya. Silahkan:

Matikan Flash
Yang pertama dan terpenting adalah flash di kamera harus dimatikan, kalau tidak anda akan mendapatkan foto biasa (karena obyek utama-nya tidak jadi gelap). Jadi matikan flash dikamera anda.

sumber : http://belajarfotografi.com/tips-foto-bagaimana-cara-memotret-siluet/

Cari kondisi pencahayaan yang tepat (backlight)
Untuk menghasilkan siluet, background anda harus lebih terang dibandingkan dengan obyek utama. Itulah kenapa kebanyakan foto siluet dilakukan saat sunset atau sunrise, dimana matahari (sumber cahaya) ada di belakang obyek yang ingin anda foto (backlighting). Tapi jangan batasi diri, foto siluet bisa dihasilkan kapan saja, pada intinya anda hanya harus menemukan background yang lebih terang dibandingkan obyek utama.

Carilah obyek yang bentuknya menarik
Foto siluet akan sangat menonjolkan bentuk obyek utama, oleh karena itu carilah obyek dengan bentuk yang menarik dan memiliki karakter kuat. Perhatikan foto diatas, karena obyek utama (pencari ikan) kehilangan detail dan menjadi sangat gelap, bentuknya justru akan lebih terekspos. Kita bisa melihat dengan jelas batas-batas lekukan bentuk tubuh si nelayan, bentuk jaring dan bingkainya sampai tetesan air yang keluar dari jaring. Anda juga bisa mencoba dengan obyek lainnya.

Carilah background yang tepat
Untuk mendapat siluet anda harus menemukan background yang lebih terang. Usahakan juga untuk mendapatkan background yang menarik namun juga tidak ramai sehingga obyek utama terlihat sangat menonjol. Langit dan pantai adalah contoh favorit.

Ukur eksposur dengan tepat (manual/ auto)
Sebisa mungkin gunakanlah mode manual eskposur. Set metering di spot metering. Lakukan pengukuran di daerah background yang paling terang. Dalam contoh foto diatas saya mengukur cahaya langit diatas helm. Ubahlah kombinasi aperture dan shutter speed sesuai dengan hasil metering anda, terutama pada aperture pastikan anda set sesuai keinginan anda (aperture besar untuk background yang agak kabur dan aperture kecil untuk background yang tajam). Setelah anda menentukan aperture dan shutter speed yang dipilih, arahkan kamera ke obyek utama. Aturlah komposisi yang terbaik dan tentukan fokus di obyek utama, baru kemudian jepret….

Jika anda tidak bisa menggunakan mode manual, gunakanlah mode auto. Arahkan kamera ke area paling terang, dalam contoh diatas adalah ke langit diatas si pencari ikan, pencetlah setengah shutter anda (jangan pencet penuh) lalu tahan shutter jangan dilepas. Lalu arahkan kamera ke obyek utama anda baru kemudian jepret….

Jangan takut mencoba
Cobalah kombinasi aperture dan shutter speed yang berbeda jika anda gagal di kesempatan pertama. Cobalah juga bereksperimen dengan obyek dan lingkungan anda, jangan hanya terpaku pada sunset dan sunrise, karena foto siluet bisa dihasilkan dimanapun.

sumber : http://belajarfotografi.com/tips-foto-bagaimana-cara-memotret-siluet/





Memahami Konsep Eskposur

1 09 2010

Are you ready???Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.

Bagi yang ingin “lulus  dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif  kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.

Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah:

  1. ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  2. Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  3. Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka

Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Eksposur

Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air. Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran, aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran dan ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM, dan air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera. Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya.

sumber : http://belajarfotografi.com/memahami-konsep-eskposur/





Memahami Aperture & Depth of Field

1 09 2010

Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.

Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.

Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.

Jadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.

Depth of Field

Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.

Untuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.

Konsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

sumber : http://belajarfotografi.com/memahami-aperture-depth-of-field/





Komposisi Fotografi

1 09 2010

Pengarang berkontemplasi dengan huruf, kata, kalimat dan paragraf , tulisan Tubagus mengenai hal ini benar dan sulit mengkomposisikan kata sesulit mengkomposisikan warna, bentuk dan tekstur ditambah cahaya lagi pada dunia fotografi. Tubagus ingin tetap berpendapat bahwa pengajaran komposisi 1/3 bagian dengan segala hukum fotografi itu wajib diterapkan tergantung situasi dan kondisi. Sebenarnya ilustrasi ini akan menjelaskan keberatan saya atas aplikasi hukum dan segala aturan  dogma fotografi.

Seorang guru gambar SD memberi contoh gambar pemandangan dengan dua gunung dan satu matahari di tengah. Juga kemudian “memaksakan” murid-murid SD tersebut dengan teknik gambar orang dewasa seperti warna biru pada langit, warna coklat pada pohon, warna hijau pada daun dsb. Kalau anak SD tersebut mempunyai imajinasi sendiri yang menggambarkan wajah berwarna ungu, rumbut berwarna jingga, dan proporsi yang nyeleneh. Langsung ditegur oleh guru dogmatik tersebut. Kejadian seperti ini banyak terjadi dan masih sampai saat ini. Hasilnya setelah mahasiswa mereka di tes gambar, dan mereka masih menggambar dengan dua gunung dan satu matahari betapa miskin kreatifitas para mahasiswa yang non seni rupa terutama.

Ternyata setelah diadakan penelitian, anak-anak itu adalah jenius menggambar yang hilang kejeniusannya setelah dewasa ujar Picasso. Para ahli pendidikan visual anak banyak berpendapat  tidak boleh mengajar teknik menggambar orang dewasa kepada anak-anak di bawah usia 12 th, hal tersebut akan merusak kreatifitas anak tersebut.

Salah satu cara adalah membuat anak tersebut mengingat pengalaman jalan-jalan, ke kebun binatang, apa yang mereka tonton, kegiatan apa yang mereka lakukan dan kemudian menceritakan dalam bentuk gambar dan sebebas-bebasnya. Boleh warna ungu pada wajah, boleh warna merah pada rumput dsb. Teknik ini sering disebut visualisasi yang tentunya pengarang seperti Tubagus dll apalagi fotografer perlu tahu visualisasi. Anak kecil dianggap jenius dan spontan dalam menggambar, kalau dia lagi benci kakaknya maka kakaknya digambar dengan gigi yang besar dan ekspresi lagi marah. Affandi dan Picasso sekalipun tidak punya ekspresi sebebas dan sespontan anak-anak kecil.

Aturan hukum rule of the third, komposisi 9 bagian, simetris, komposisi diagonal pada dunia fotografi yang dimakan mentah-mentah oleh siswa dan dijadikan sebagai hukum yang tidak terbantahkan oleh fotografer (baca: ada dan tidak semua). Hukum-hukum tersebut ada setelah karya seni rupa dibuat. Tetapi seniman biasanya selalu berusaha keluar dari hukum-hukum tersebut. Fotografer dilatih rasa terhadap komposisi warna, bentuk, tekstur dan sinar. Hukum itu hanya sebagai pengetahuan saja dan kadang-kadang masih muncul secara tidak sengaja pada saat pemotretan. Pada saat memotret kita biasanya tahu, melihat (visualisasi) dan setelah jam terbangnya tinggi kita mulai main rasa pada komposisi. Kalau ngomong dan bicara terus emang sulit, paling gampang secara visual.

Mengembangkan rasa dalam melihat hubungan bentuk dan warna masih lebih penting dari pada menerapkan hukum-hukum fotografi. Lagipula kita musti tahu apakah hukum 1/3 bagian dari lukisan pada era 500 th yang lalu (Leonardo da Vinci) bisa diterapkan pada fotografi. Fotografi merekam suatu yang realitas dan hampir yang seperti kita lihat terutama foto warna.

Hukum 1/3 bagian baru efektif digunakan pada foto yang ada garis horisonnya seperti di pantai, gunung, danau atau dataran yang luas dan terlihat garis horisonnya. Itupun tergantung dari warna langit, warna tanah dan posisi manusia atau benda yang difoto. Saya baca pembahasan Tubagus jauh dari warna, bentuk, tekstur dan kualitas + arah sinar, seakan pada tulisan itu komposisi foto = grammar atau tata bahasa yang banyak aturannya. Komposisi foto sebenarnya bebas selama bisa menimbulkan rasa tertentu. Selain analisa Rasa dari foto, pembahasan komposisi merupakan hal yang utama dalam melancarkan kritik foto. Yang jadi persoalan latihan meningkatkan rasa jauh lebih sulit dibandingkan belajar  hukum fotografi  atau teknik fotografi.***

sumber : http://www.matabumi.com/features/komposisi-fotografi-%3D-rasa-gabungan-warna-+-bentuk-+-tekstur-+-kualitas-dan-arah-sinar





Sekilas lensa 18-105mm VR

1 09 2010

Beberapa fakta dari lensa 18-105mm diantaranya :

  • rentang fokal lensa yang mencukupi untuk fotografi sehari-hari (equiv. 28-157mm)
  • variable aperture dari f/3.5 hingga f/5.6 (maks) dan f/22 hingga f/38 (min)
  • sistem stabilizer VR
  • optik yang sudah dilengkapi elemen ED dan aspherical, plus SIC coating
  • diameter filter 67 mm
  • mounting dari plastik
  • inner focus, tidak ada elemen di depan lensa yang berputar
  • format DX (tidak untuk DSLR full frame)
  • tanpa fitur kelas pro (distance scale, ring aperture dsb)

Tak bisa dipungkiri, lensa ini memang tergolong sebagai lensa serba-bisa (versatile lens) karena rentang fokalnya, sehingga praktis saat dipakai bepergian tanpa perlu membawa banyak lensa. Lensa ini juga sudah dianggap memenuhi syarat mendasar sebuah lensa modern karena sudah ada VR, pake motor micro untuk AF, ada elemen ED lens dsb. Tapi bagaimana pun lensa 18-105VR ini tetaplah lensa kit yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita (terlepas harga jualnya yang lumayan mahal untuk ukuran lensa kit). Ada yang bilang kalau lensa ini adalah versi murah dari lensa 18-200VR, dengan harga setengahnya (dan rentang fokal yang juga setengahnya). Namun ada yang bilang juga kalau lensa ini adalah penyempurnaan dari lensa 18-135mm yang sudah dilengkapi VR dan mengurangi masalah purple fringing yang terjadi di lensa 18-135mm.

Bicara soal rentang fokal, khususnya di posisi tele, memang fokal lensa kit dari D90 ini punya keunggulan dibanding lensa kit lain yang umumnya berada di kisaran 55mm dan 70mm. Tapi apakah 105mm ini sudah mencukupi untuk kebutuhan tele atau tidak, tentu ini soal lain. Apalagi jika si empunya lensa tidak bermaksud untuk memiliki lensa tele tersendiri, tentu fokal 105mm itu (ekuiv. 157mm) perlu dipertimbangkan lagi apa sudah cukup panjang atau belum. Tapi bila kita merasa 105mm ini sudah cukup, maka lensa ini sudah bisa menjadi lensa utama khususnya untuk pemula. Tak heran meski 18-105VR ini sejatinya adalah lensa kitnya Nikon D90, namun banyak yang membeli lensa ini untuk dipakai di kamera lain mulai dari D40 hingga D300.

Lensa 18-105VR sepintas tampak serupa dengan lensa 18-135mm dengan ukuran yang relatif kecil meski memiliki diameter filter 67mm. Dalam posisi wide 18mm, tidak ada bagian dari lensa yang menonjol, namun begitu lensa di zoom maka elemen lensa akan memanjang dan akan berada di posisi terpanjang berada pada posisi 105mm. Posisi ring fokus manual berada di sebelah dalam (kebalikan dari lensa kit 18-55mm atau 55-200mm) sehingga terhindar dari resiko terputar secara tidak sengaja (seperti yang terjadi di lensa AF-S 24-70mm). Di samping kiri ada dua tuas selektor yaitu tuas manual/auto fokus dan tuas on/off VR. Dalam urusan manual fokus, lensa ini unik karena pada tuas tertulis kode A – M (bukannya M/A – M seperti lensa Nikon yang lebih mahal) namun dalam penggunaan manual fokus kita bisa memutar ring fokus kapan saja tanpa harus menggeser tuas dari posisi A ke posisi M. Gerakan zoom lensa saat di putar terasa kokoh dan tidak ‘enteng’ seperti lensa kit 18-55mm. Lensa buatan Thailand ini memiliki mounting dari plastik sehingga perlu hati-hati saat membawa kamera, jangan membawa kamera dengan cara menggenggam lensanya (supaya tidak patah).

Kinerja, hasil foto dan masalah lensa

Kecepatan fokus lensa ini (dinilai dari kecepatan motor SWM di dalam lensa) tergolong amat cepat dan mampu mengunci fokus (dalam kondisi ideal) dibawah setengah detik. Meski tidak secepat motor yang dipakai di lensa kelas mahal (seperti AF-S 24-70mm), kinerja fokus lensa ini masih setingkat di atas lensa kelas murah seperti 55-200mm.

Sistem VR bekerja baik dan saya menguji VR di lensa ini ternyata sanggup bekerja hingga 3 stop, dengan situasi pemotretan 1/10 detik dan fokal 105mm saya bisa dapatkan hasil foto yang tetap tajam dengan mengaktifkan fitur VR ini.

Bicara soal ketajaman lensa, maka lensa Nikon ini sama baiknya dengan lensa Nikon lain, dimana ketajaman tetap terjaga pada bukaan maksimal dan tetap baik pada seluruh rentang fokal (di 105mm memang sedikit agak soft). Ketajaman juga didapat paling baik di bidang tengah gambar dan lebih soft di bagian tepinya.

Masalah utama dari lensa ini adalah pada distorsi barrel yang mengganggu pada 18mm, dan distorsi pincushion yang hadir mulai dari 30mm hingga 105mm. Masalah lain adalah bukaan diafragma maksimalnya yang sudah mencapai f/5.6 bahkan pada saat lensa baru berada pada posisi 70mm. Artinya, dari fokal 70mm hingga 105mm bukaan maksimal yang ada adalah f/5.6 saja.

Kesimpulan

Banyak orang yang mencari sebuah lensa yang bisa dipakai untuk kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dengan ciri ukuran kecil, rentang fokal yang lebar (wide hingga tele), ada sistem VR, optiknya bagus dan tentu harganya terjangkau. Keuntungan bagi anda yang memakai DSLR Nikon adalah banyaknya pilihan lensa yang masuk dalam kriteria ini, seperti lensa kit D70 yang legendaris (18-70mm), 16-85mm hingga 18-200mm. Nah, lensa 18-105mm ini pun mampu menjadi salah satu pilihan yang menarik karena memenuhi semua kriteria yang saya tuliskan di atas.

Sebagaimana layaknya lensa walk-around pada umumnya, lensa ini juga bukanlah lensa high performance yang dicari para profesional. Sebutlah karena material mountingnya yang terbuat dari plastik, bukaan diafragmanya yang tergolong lambat, tidak kompatibel dengan format FX / full frame, hingga cacat distorsinya yang tampak jelas membuat garis jadi melengkung. Selain masalah di atas, lensa ini merupakan lensa yang praktis dan bisa diandalkan untuk menghasilkan foto-foto yang indah, warna yang natural, kontras dan ketajaman yang tetap terjaga pada sepanjang rentang fokal.

Sumber: http://erwinmulyadi.co.cc/2009/06/preview-lensa-nikon-af-s-18-105mm-vr/





Nikon D90

1 09 2010

Nikon D90 adalah penerus ditunggu lama untuk D80 terlaris perusahaan Digital SLR.Diumumkan pada akhir Agustus 2008, D90 mengikuti strategi yang sama dengan pendahulunya, bertujuan pada tingkat sedikit lebih tinggi daripada banyak dari para pesaingnya.Hal ini dimengerti membuat lebih mahal, tapi terbayar berjudi sama dengan D80 sebelumnya, di mana pembeli baru yang melihat nilai pengeluaran sedikit tambahan pada kamera yang lebih baik dengan fitur yang akan terakhir mereka lagi.

Jadi ke bisnis: Nikon D90 terbaru perusahaan mid-range DSLR yang memiliki dorongan yang tak terelakkan dalam resolusi lebih dari pendahulunya, kali ini 10,2-12,3 Megapixels. D90’s Sensor CMOS menggunakan teknologi dan kami mengerti itu chip DX-format yang sama digunakan dalam D300 semi-pro, atau setidaknya satu berdasarkan itu.
Dengan demikian faktor pengurangan lapangan masih 1,5 kali dan kisaran sensitivitas juga sama seperti D300, berlari 200-3200 ISO dalam berbagai standar, dengan Lo-1 dan Hi-1 opsi memperluas ke 100 dan ISO 6400. Seperti D300 itu, D90 juga menawarkan fasilitas anti-debu dengan bergetar filter lolos rendah.
Fitur berikutnya yang baru, tapi diharapkan selama D80 sebelumnya tentu saja Live View. Tidak seperti Live View di D300 dan D700 meskipun, D90 ini memiliki tombol khusus di bagian belakang untuk mengaktifkan fitur tersebut, dan sekarang ada tiga kontras berbasis AF mode untuk memilih dari.
Pelekatan dengan sensor, fitur baru yang besar untuk D90 ini adalah video rekaman – memang itu adalah DSLR pertama yang menawarkan fasilitas ini. D-Movie Modus D90’s capture video format progresif di 24fps dalam tiga pilihan resolusi: 320×216, 640×424 dan 1280×720 definisi tinggi mode. Video disimpan dalam format AVI Motion JPEG dengan audio mono.
Perekaman video sering kali melibatkan kompromi pada kamera, dan memang Nikon memperingatkan autofocus dan ‘beberapa fungsi lain’ tidak tersedia saat film merekam pada D90 ini. Tapi sebagai DSLR, D90 fitur satu harfiah keuntungan besar atas lainnya masih kamera, dan memang semua camcorder konsumen: sensor yang secara fisik jauh lebih besar.Hal ini memberikan keuntungan ganda D90 sensitivitas yang lebih besar dalam cahaya rendah dan berpotensi jauh lebih kecil kedalaman bidang, bersama dengan kesempatan untuk swap lensa dan zoom sementara film.
Melanjutkan strategi Nikon kinerja yang lebih tinggi-end, pengambilan gambar terus menerus di D90 adalah tidak terjebak pada tingkat entry-level khas 3fps, maupun meningkatkan kecepatan 3.5fps sedikit dari Canon 450D / XSi atau Olympus E-520. Sebaliknya D90 menembak pada tingkat terasa lebih cepat dari 4.5fps, yang dekat dengan 5fps model semi-pro seperti A700 Sony Alpha.
D90 tidak hanya berbagi dengan resolusi sensor D300 – itu juga memiliki fitur yang sangat baik sama 3in monitor dengan 920k piksel. Jadi berbeda dengan resolusi 320×240 piksel khas layar 230K, D90 ini menawarkan resolusi 640×480 piksel yang memungkinkan Live View, memutar ulang gambar dan item menu untuk melihat sangat rinci dan benar-benar luar biasa.
Seperti sebelum D80, D90 mempekerjakan pentaprism jendela bidik untuk memberikan pandangan, besar dan terang, dan seperti DSLRs Nikon lainnya, LCD ada garis grid yang dapat dinyalakan dan dimatikan sesuai kebutuhan. Dalam hal autofocus, D90 yang dilengkapi dengan Multi-CAM 1000 sama sistem 11-point sebagai pendahulunya, dan ada juga sekarang opsional deteksi wajah di Live View.
Melengkapi gambar adalah output HDMI untuk koneksi ke HDTV dan port untuk yang baru opsional GPS-1 aksesori, yang cocok ke hotshoe di D90 dan memungkinkan kamera untuk menyimpan lokasi, waktu dan rincian ketinggian dalam data EXIF. Akhirnya, Nikon memperkenalkan lensa kit baru untuk D90 itu: AF-S DX Nikkor 18-105mm f/3.5-5.6G ED VR.Jadi mungkin lebih pendek dari 18-135mm yang biasa dipasok dengan D80, tetapi sekarang fitur tambahan penting dari Vibration Reduction untuk membantu menetralkan guncangan kamera.




Nikon D3x

1 09 2010

Selain sensor masing-masing dan dampaknya terhadap sensitivitas dan pemotretan terus menerus, baik tubuh pada dasarnya identik.Seperti tubuh Nikon sebelumnya pro dan orang-orang dari seri Canon 1D, yang D3x fitur built-in pegangan potret dan tangki-seperti membangun kualitas. The D3x ukuran 160x157x88mm, berat-in di 1.22Kg tanpa baterai dan dilindungi oleh badan sulit magnesium alloy lingkungan tertutup.

Seperti D3 sebelum itu, D3x memiliki kualitas yang hebat 3in layar VGA dengan Live View dan jendela bidik optik besar dengan cakupan 100% dan pembesaran 0.7x. 51-Intinya D3’s AF system dan dual Compact slot kartu memori Flash juga mewarisi di sini, yang kedua memungkinkan D3x untuk merekam duplikat gambar untuk setiap kartu atau RAW untuk satu dan JPEG untuk yang lain, menyediakan redundansi yang berguna; opsi overflow juga tersedia.

Untuk memanfaatkan kualitas penuh tubuh baik, Anda harus cocok full-frame lensa yang kompatibel, walaupun seperti D3 sebelumnya, Anda juga dapat menyesuaikan lensa DX-format dan memilih apakah akan secara otomatis memotong gambar atau merekam daerah tidak dikoreksi. Dalam sebuah langkah yang berkelas, jendela bidik optik yang D3x juga bisa abu-abu-keluar daerah luar ketika sebuah lensa DX-format dipasang untuk mengilustrasikan dikoreksi dan dikoreksi bagian dari frame. Jelas dengan piksel lebih terkonsentrasi di daerah yang sama meskipun, dipotong dari D3x’s DX-format modus menikmati resolusi lebih tinggi dari D3: 10,5 Megapixels versus 5.1. Kedua badan juga menikmati pengambilan gambar terus menerus lebih cepat dalam modus dipotong-DX, meskipun lagi dengan sedikit data untuk proses, D3 memiliki keuntungan: 7fps pada 11fps versus D3x di D3.

The D3x Nikon adalah yang pertama benar-benar profesional DSLR kami telah diuji di Cameralabs, jadi kami pergi untuk pendekatan yang berbeda dari biasanya. Alih-alih memberikan D3x review lengkap kami berkonsentrasi pada kualitas gambar sendirian di sini, karena kami percaya ini adalah apa yang akan menarik sebagian besar pembaca Cameralabs ‘. Jika laporan populer, kami akan mempertimbangkan mengembangkannya menjadi meninjau penuh dengan rincian pada desain, membangun kualitas, fitur dan penanganan.

Kedua, sebagai top-end DSLR dengan harga cocok, kami telah dihindari JPEG di-kamera sama sekali dan hanya menguji D3x dalam mode RAW nya, diolah dengan Nikon Capture NX 2.2.0; pendekatan ini akan memungkinkan Anda untuk melihat apa D3x benar-benar mampu.

Sebagai perbandingan, para pesaing alami untuk D3x adalah Canon EOS 1Ds Mark III, tapi kami memutuskan untuk tidak menggunakan model ini kita hanya peduli dengan kualitas gambar dalam laporan ini, dan Canon itu sendiri menggambarkan EOS 5D Mark II memiliki kualitas terbaik dalam rentang tersebut pada saat menulis, melainkan juga era mirip dengan D3x, sedangkan 1Ds Mark III sudah tampak sedikit dibandingkan tanggal, dengan penggantinya secara luas sebut akan tiba dalam waktu dekat.

Tentunya D3x dan 5D Mark II berada di liga yang berbeda ketika datang untuk membangun kualitas dan penanganan, belum lagi harga, tapi sekali lagi kita hanya membandingkan kualitas gambar di sini dan tidak fitur atau nilai uang. Karena masing-masing model digambarkan oleh produsen sebagai memberikan kualitas gambar yang terbaik di masing-masing rentang, kami percaya ini adalah untuk membuat perbandingan yang adil. Sekali lagi kita diuji 5D Mark II dalam mode RAW nya, kali ini dengan menggunakan Canon Digital Foto Profesional perangkat lunak untuk konversi.

Kami juga ingin menyertakan Sony DSLR Alpha A900, tapi sayangnya perusahaan tidak mampu untuk pengadaan satu untuk pengujian.Namun Anda dapat membuka halaman hasil dari peninjauan A900 kami untuk perbandingan kasar.

Jadi, baca terus untuk mengetahui bagaimana flagship DSLR Nikon tindakan-up dalam hal resolusi kehidupan nyata, studio resolusi dan noise ISO tinggi – akhirnya melakukannya menjadi kualitas DSLR terbaik saat ini?

Pengujian catatan

Kami menguji produksi akhir Nikon D3x dengan Nikkor AF-S 14-24mm F2.8 dan Nikkor AF-S 50mm f1.4G lensa. The D3x ditetapkan untuk RAW untuk semua sampel dalam laporan ini, dengan Auto White Balance dan default Standar Gambar Control, Normal High ISO NR dan Active D-Lighting dimatikan. Semua gambar diolah dengan menggunakan Nikon Capture NX 2.2.0 menggunakan setting default.

sumber : http://www.studiofotografer.com/product/35/50/Nikon-D3x/?o=terbaru








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.